SEJARAH SINGKAT
GEREJA KRISTEN JAWA NGESREP

Awalnya, beberapa anggota jemaat GKJ Ungaran yang berdomisili di Ngesrep, Srondol, dan sekitarnya rindu serta berkeinginan kuat mengadakan persekutuan di wilayahnya. Dikarenakan jarak antara tempat tinggal dengan GKJ Ungaran sangat jauh, Yunus Sunarto, jemaat GKJ Ungaran yang merupakan salah satu saksi maupun tokoh penting berdirinya GKJ Ngesrep yang tinggal Ngesrep Barat gang I berani mengumpulkan beberapa jemaat Kristen guna mengadakan persekutuan. Keberaniannya bersekutu ini didasari anjuran pemerintah di era Presiden Soeharto, bahwa setiap warga negara Indonesia wajib memeluk satu agama yang diakui, salah satunya Kristen Protestan. Pekabaran Injil dilakukan bersama isteriya, Mintosih. Beberapa orang tertarik mengadakan persekutuan, di antaranya Sulimin, Supadi, Slamet Mulyono, dan Sariman. Yunus Sunarto yang selanjutnya bertemu warga keturunan Tiongkok jemaat GKI, Lie Siek Tiong atau nama lain Ali Sastro Wardoyo. Ali yang dulu pernah menjadi Kepala SMA Kristen YSKI Sidodadi Semarang ini tinggalnya tak jauh. Gayung bersambut, Ali antusias dan memberi izin tempat tinggalnya di J1 Setiabudi Nomor 97 Semarang (tepatnya di utara Hotel Plaza Semarang saat ini) digunakan persekutuan. Guna menghidupkan persekutuan itu, pada tanggal 26 Desember 1966 diselenggarakan Perayaan Natal pertama kalinya.

Ketika itu, persekutuan di rumah Ali yang terjadi sejak bulan Maret hingga Desember 1966 itu baru diikuti 15 orang. Hubungan persekutuan lama-kelamaan semakin akrab, tapi pada perjalanannya menemui kendala, yakni setelah Ali dan keluarganya pindah rumah. Bersama jemaat, Yunus mencari tempat lain untuk bersekutu. Berkat kemurahan Tuhan, tidak lama kemudian, seorang jemaat, Siswo Riyanto menawarkan rumahnya di JL Setiabudi Nomor 109 Semarang untuk persekutuan. Lokasinya dekat perempatan patung kuda Undip/Patung Pangeran Diponegoro di Ngesrep, kini tempatnya sudah berubah menjadi Family Karaoke.

Selepas dari tempat Ali, persekutuan di rumah Siswo Riyanto berlangsung hingga tahun 1968. Rutinitas persekutuan berlanjut, jemaat Kristen semakin banyak seperti halnya Asmo Winangun pendeta emiritus dari GKJ Purbalingga, Yunus Sunarto, Sulimin, Kardiman, Rukiman, Suwondo, Kasnoer, Rakimin, Y Sugimanto, Supadi, Pamin, Karto, Kasidi, dan Solikin. Persekutuan kembali mengadakan perayaan Natal pada 26 Desember 1967 di rumah Siswo Riyanto. Hal ini memicu keinginan dan pemikiran jemaat membangun gereja, dengan lokasi yang dikehendaki ialah lahan berukuran 12,1 m x 24 m milik Kasmani, mertua JK Darto sekarang tinggal di sebelah barat gereja. Proses pembelian atau kepemilikan tanah pada bulan Juli 1968 itu, tidak dilakukan secara jual beli, melainkan melalui perjanjian antara jemaat dan Kasmani. Perjanjiannya, jemaat harus memasang instalasi air Perusahaan Air Minum (PAM), kini bernama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Semarang, di rumah keluarga Kasmani. Taksiran harga tanah saat itu sekitar Rp 20 ribu, sedangkan biaya pemasangan air PAM itu Rp 30 ribu. Jemaat pun rela hams membayar lebih mahal dari harga taksiran tanah. Namun, semangat gotong royong yang kuat para jemaat untuk membangun gereja, menjadikan perjanjian itu dapat diselesaikan dengan baik. Tepat 3 Desember 1968, perjanjian tertulis pembelian tanah dilakukan, dan tanah dapat dimiliki secara barter.

Setelah memiliki tanah, tahapan berikutnya membeli rumah kayu dengan dinding anyaman bambu atau gedhek. Bangunan itu didapatkan dari Jumadi, warga di Srondol Kulon, Kecamatan Semarang Selatan (kini Kecamatan Banyumanik) pada pertengahan bulan September 1968. Prosesnya, rumah kayu yang telah terbeli itu dibongkar untuk selanjutnya didirikan kembali di lahan yang sudah dimiliki gereja. Sulimin, saksi sejarah berdirinya GKJ Ngesrep, termasuk salah satunya yang mengetahui pembelian rumah kayu sederhana itu.

Setelah membeli rumah kayu, kemudian jemaat gotong royong bersama warga Ngesrep mendirikan kembali rumah kayu yang akhimya menjadi bangunan gereja pertama,” jelas Sulimin yang juga saksi terjadinya barter tanah gereja dengan pemasangan instalasi PDAM untuk keluarga Kasmani. Adapun, dua orang yang disebutnya tokoh pendiri gereja ialah Yunus Sunarto dan Siswo Riyanto. Keduanya sering mengajar Alkitab dan berkotbah. Persekutuan yang diselenggarakan, menarik minat orang lain yang akhirnya turut bergabung. Pada 1967, jemaat ada sekitar 50 orang, baik dewasa maupun anak-anak

       Tahapan pembangunan gedung GKJ Ngesrep tidak dilalui semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hambatan yang dilalui, di antaranya kepengurusan izin dan masalah tanah. Namun, berkat kerja keras majelis gereja, jemaat, dan pertolongan Tuhan, masalah bisa terselesaikan dengan baik. Setelah mengantongi SHM dan IMB, serta pembentukan panitia pembangunan, maka langkah selanjutnya ialah membangun gereja. Panitia pembangunan pun mengontak jemaat GKJ Semarang Barat, Sulistyo Hadi yang akhimya bersedia menjadi pemborong pembangunan gereja. Adapun gedung gereja ini didesain Slamet Diyanto. Sesuai rancang bangunan, gedung gereja dibangun dua lantai dengan luas bangunan totalnya 150 meter persegi dan ketinggiannya mencapai 6,8 meter persegi. Di lantai satu, tempat ibadah ini menampung 170 jemaat, sedangkan lantai dua 30 jemaat. Pembangunan gedung yang bentuknya dibuat mirip GKJ Sarimulyo Yogyakarta sesuai hasil studi banding itu, resmi dimulai pada Minggu, 5 September 1993, dengan ditandai peletakan bath pertama oleh Thomas Pandiono, selaku ketua majelis gereja.

Pembongkaran bangunan itu dimulai dari bagian pinggir, sehingga rumah atau gedung gereja induk yang berada di tengahnya tidak dibongkar. Tujuannya, agar bangunan induk dari papan dan gedhek itu tetap bisa dimanfaatkan sebagai tempat ibadah hari Minggu. Dana awal yang disiapkan sebesar Rp 32 juta. Pekerjaan pembangunan pertama ialah pagar bumi yang memakan waktu sekitar enam bulan. Setelah pagar bumi berdiri, barulah rumah induk itu dibongkar.