
Masa Paskah ini merupakan sarana bagi gereja-gereja untuk melakukan retreat akbar. Retreat kali ini kita jalani dalam suasana keprihatinan mendalam di satu sisi dan di sisi lain kita menyambut tawaran dari Tuhan yang menyatakan kasih, rekonsiliasi dan persatuan. Allah melakukan hal itu karena Ia berbelarasa terhadap dunia yang membutuhkan penyelamatan Allah.
Word Council of Churchess merumuskan sikap imannya tentang Allah Trinitas Mahakudus yang memulihkan relasi (rekonsiliasi) dan mempersatukan. Rumusan itu menjadi dasar Persidangan WCC di Karlsruhe – Jerman pada tanggal 31 Agustus – 8 September 2022. Rumusan iman itu diungkapkan demikian:
“Sikap Allah yang paling utama” ini diwujudkan menjadi daging di dalam Yesus Kristus: dalam belas kasih yang Ia jalani dalam pelayanan-Nya di dunia; dalam misteri inkarnasinya; dalam penderitaannya, sekarat, dan dibangkitkan kembali ke kehidupan baru; dan dalam janji pembaruan masa depan semua ciptaan. Dan cinta ini adalah cinta yang dengannya Allah mencintai dan cinta yang nyata bagi kita, adalah pemberian Allah kepada gereja dan dunia. Kasih inilah yang mengilhami, menggerakkan, dan menciptakan segala yang mungkin dalam kehidupan gereja karena menjadi tanda kasih Allah bagi dunia”.
Kasih sangat nyata di dalam peristiwa Yesus yang memasuki Yerusalem dan memikul sengsara-Nya di jalan Salib dan kematian-Nya. Leonardo Boff menyebut bahwa secara teologis, jalan sengsara Yesus merupakan konsekuensi kesetiaan-Nya kepada Bapa dan kepada manusia. Meskipun Ia ditolak oleh manusia, namun Bapa menghendaki agar kerajaan-Nya dibangun di dunia ini. Kerajaan Allah merupakan inti keseluruhan kesaksian Yesus. Kerajaan itu terwujud karena intervensi Bapa sorgawi ke dalam kehidupan di bumi yang mengubah jalannya sejarah manusia menuju arah yang lain. Melalui kesaksian itu, kehidupan manusia diubah menuju kehidupan yang baru, yaitu kehidupan yang diperintah oleh Tuhan Yesus.
Kristus yang memerintah dalam Kerajaan Allah adalah Kristus yang menghamba. Peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem, penghakiman di hadapan Pilatus, tulisan INRI di salib Yesus mencerminkan secara utuh bagaimana Sang Raja itu menghamba serendah-rendahnya. Ia sadar benar bahwa dengan cara itulah rekonsiliasi dan persatuan dapat diwujudkan. Tidak ada jalan lain untuk membela kebenaran, keadilan, dan kehidupan, kecuali melalui jalan kebenaran, keadilan dan kelemahlembutan hidup. J. Darminto SJ menyebut bahwa hidup ini sejatinya lembut dan halus, sebagaimana dapat dilihat di dalam proses kehidupan alam, baik berupa pepohonan, binatang dan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, penyelamatan Allah melalui pengurbanan Yesus bersifat kosmik. Artinya, penyelamatan Allah adalah untuk seluruh ciptaan-Nya. Penderitaan, salib adalah rekonsiliasi Allah dengan manusia dan seluruh ciptaan. Semuanya dipersatukan Allah melalui penderitaan-Nya.
Rekonsiliasi merupakan proses dua arah yang tidak dapat dipaksakan kepada orang lain (aku dapat mengampuni, namun aku tidak dapat memaksakan orang lain mengampuni aku). Akar kata rekonsiliasi adalah consilium, mengadakan suatu proses yang dimaksudkan dengan sengaja, di mana pihak-pihak yang berseteru bertemu satu sama lain “dalam dewan” guna membicarakan perbedaan di antara mereka untuk mencapai kesepakatan bersama. Percakapan itu dilakukan bukan sekadar untuk negosiasi, namun untuk mencapai perubahan yang mendasar dalam relasi bersama yang didasarkan pada kesadaran. Dalam relasi itu pengampunan dikedepankan.
Di dalam Alkitab, pesan rekonsiliasi dapat ditemukan dalam 2 Korintus 5:17-21. Allah mendamaikan diri-Nya oleh Kristus… Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor. 5:19,21). Dari pernyataan Rasul Paulus itu tampak bahwa rekonsiliasi merupakan gagasan yang datang dari Allah. Gerak itu asimetris, sebab Allah-lah yang menjadi pemrakarsanya.
Kita juga menyadari bahwa untuk terlibat dalam karya rekonsiliasi dan pemulihan bukanlah perkara mudah. Alkitab telah mengingatkan tentang kekuatan-kekuatan menghancurkan yang harus dihadapi bersama dalam memperjuangkan kehidupan adil, damai, utuh.
Di tengah dunia yang sedang diguncang oleh aneka perusak kehidupan yang membuat dunia tercerai-berai, egois, kasih Kristus menggerakkan dunia menuju rekonsiliasi dan persatuan. Ini adalah pernyataan keyakinan dan kepercayaan bahwa itu adalah kehendak Tuhan untuk menggerakkan kita dengan kasih untuk rekonsiliasi. Ini adalah pesan kepada dunia tentang kasih yang menjadi inti iman Kristen. Karena itu, bagi para pengikut Yesus, mengikut Dia berarti menempuh jalan salib bersama Yesus. Via dolorosa bukanlah suatu beban melainkan sebuah kegembiraan, yakni kebahagiaan dalam melakukan karya rekonsiliasi Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Rekonsiliasi dan persatuan adalah buah dari kasih. Kebangkitan Yesus menjadi penegasan tentang gerak kasih sebagai jalan pemulihan bagi relasi-relasi yang rusak akibat dosa. Dalam khotbahnya di hadapan orang-orang Yahudi, Petrus menyerukan bahwa Allah tidak membedakan semua orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya (Kis. 10:34-35). Dari pernyataan Petrus itu, kita bisa menafsirkan lebih lanjut bahwa Allah yang mengasihi semua orang itu adalah Allah yang mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Kasih mempersatukan kehidupan.
Kasih yang mempersatukan pada hakikatnya inklusif. Lawan kata inklusif adalah ekslusif. Dengan menghayati kebangkitan Kristus dan gerak Roh Kudus dalam dirinya, Petrus mampu mengubah diri menjadi pribadi inklusif yang bersedia menyatu dengan semua orang. Keterbukan seperti Petrus ini dibutuhkan oleh manusia di zaman ini untuk siap mengalami sentuhan kasih Allah yang pada gilirannya menjadikan manusia terbuka pada sesamanya, saling mengasihi, berekonsiliasi dan mewujudkan persatuan.
Catatan Kaki:
1. Nukilan bahan dasar Masa Raya Paskah 2023 dari Lembaga Pembinaan dan Pengaderan (LPP) Sinode GKJ dan GKI SW Jateng.
2. Word Council of Churchess, Kasih Kristus Menggerakkan Dunia menuju Rekonsiliasi dan Persatuan Refleksi atas tema Sidang ke-11 Dewan Gereja-Gereja Sedunia, Karlsruhe 2022, (WCC, 2021): 15
3. Leonardo Boff, Jalan Salib Jalan Kehidupan, (Kanisius, 1992): 9
4. Andar Ismail, Selamat Berkiprah, (BPK Gunung Mulia, 2008): 62
5. J. Darminta, SJ, Jalan Pengudusan Melalui Salib (Kanisius, 2006):11
6. Loughlan Sofield, ST, Caroll Juliano, SHCJ, dan Rosine Hammett, CSC, Design For Wholeness: Rancangan Membangun Keutuhan Pribadi, (Kanisius, 2003):79
7. Geiki Müller Fahrenholz, Rekonsiliasi, (Penj. Yosef M. Florisan), (Ledalero, 2005):8
8. Naim Stifan Ateeek, Semata-mata Keadilan, (BPK Gunung Mulia, 2009): 118